BAGAIMANA CARA MEMBUAT BAJA MENURUT AL-QUR’AN?
“Berilah aku potongan-potongan besi (masses of iron). Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua bukit itu, berkatalah dia (Dzulqarnain): “Tiuplah”. Hingga ketika besi itu sudah menjadi merah seperti api, diapun berkata “Berilah aku QITHR agar kutuangkan ke atas besi panas itu” (QS Al Kahfi ayat 96).
Perlu dijelaskan di sini bahwa ada sedikit variasi atau perbedaan dalam terjemahan terhadap ayat tersebut khususnya berkaitan dengan kata “QITHRAAN”. Ketika penulis bandingkan sekitar 8 terjemahan (2 versi bahasa Indonesia dan 6 versi bahasa Inggris), secara umum dapat kita kelompokkan menjadi 4 kelompok dalam menerjemahkan kata “Qithraan”. Keempat terjemahan tersebut memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Keempat jenis terjemahan tersebut adalah (molten) copper (tembaga yang meleleh/mendidih), (molten) lead (timah yang meleleh), (molten) brass (kuningan yang meleleh), dan tar (ter/tir). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalen, Tafsir Thabari and Tafsir Qurtubi, kata “qithr” ditafsirkan sebagai “tembaga”. Kata “yang meleleh (molten)” merupakan tafsiran tambahan. Jika kita lihat Kamus Inggris-Indonesia-Arab susunan Attabik Ali, diperoleh bahwa arti dari qithr adalah tar (Inggris) dan ter/tir (Indonesia). Untuk menentukan terjemahan yang paling tepat, hal ini dapat ditinjau dari perspektif sains modern. Berdasarkan ilmu metalurgi, baja dibuat dari dua unsur yaitu besi dan karbon. Selanjutnya jika kita amati, ter/tir (yang berwarna hitam yang merupakan campuran aspal dan minyak dan bisa juga disebut sebagai minyak mentah) jelas banyak mengandung unsur karbon. Jadi dalam cerita Zulkarnain di atas jelas apa yang seharusnya dituangkan kedalam besi telah memerah panas seperti api adalah tir/ter, karena dengan menuangkan ter/tir tersebut terjadilah percampuran antara besi dan karbon sehingga terbentuklah baja, yang sifatnya lebih keras dan kuat dibandingkan besi. Maka pada ayat berikutnya (QS Al Kahfi ayat 97) diceritakan “mereka tidak bisa melobanginya”. Selain itu jika kata “qithran” diterjemahkan sebagai ‘tembaga’, ‘timah’, atau ‘kuningan’, maka diperlukan sebuah penafsiran lagi (tafsiran tambahan) yaitu ‘yang meleleh’. Kalau diterjemahkan atau ditafsirkan sebagai ‘ter/tir’ tidak perlu ada penafisran tambahan karena tir/ter memang bentuknya sudah cair sehingga tinggal disiramkan saja ke atas besi yang sudah panas membara seperti api. Dengan demikian, QS Al Kahfi Ayat 96 akan lebih tepat diterjemahkan sebagai berikut: Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua bukit itu, berkatalah dia (Dzulqarnain): “Tiuplah”. Hingga ketika besi itu sudah menjadi merah seperti api, diapun berkata “Berilah aku ter/tir agar kutuangkan ke atas besi panas itu.
Walloohu a’lam