Tuesday, June 17, 2008

Rekonseptualisasi Zakat untuk Keadilan

Oleh: Dani Muhtada

Zakat merupakan salah satu instrumen kebijakan fiskal yang sangat penting di zaman Nabi. Zakat sangat berpotensi menghilangkan konsentrasi keka yaan di kalangan elit ekonomi tertentu. Tidak hanya itu, ia juga berpotensi meningkatkan produktivitas masyarakat dan konsumsi total. Jika dikelola secara profesional, apalagi jika ada dukungan politik yang kuat dari pemerintah (Indonesia), instrumen ekonomi ini juga dipercaya mampu mengurangi tingkat pengangguran dan kemandirian ekonomi.

Di bawah genggaman ekonomi neo-liberal seperti saat ini, masyarakat muslim Indonesia seharusnya mampu mengoptimalkan pendayagunaan zakat bagi kesejahteraan umum. Sayangnya, pengelolaan zakat masih menyisakan beberapa kendala konseptual dan teknis. Salah satu akar persoalannya ada pada formalitas zakat. Artinya, zakat hanya diangap sebagai kewajiban normatif, tanp a memperhatikan efeknya bagi pemberdayaan ekonomi umat. Akibatnya, semangat keadilan ekonomi dalam implementasi zakat menjadi hilang. Orientasi zakat tidak diarahkan pada pemberdayaan ekonomi masyarakat, tapi lebih karena ia merupakan kewajiban dari Tuhan. Bahkan, tidak sedikit muzakki yang mengeluarkan zakat disertai maksud untuk menyucikan harta atau supaya hartanya bertambah (berkah). Ini artinya, muzakki membayarkan zakat untuk kepentingan subyektivitasnya sendiri. Memang tidak salah, tapi secara tidak langsung, substansi dari perintah zakat serta efeknya bagi perekonomian masyarakat menjadi terabaikan.

Beberapa aturan dalam fiqh zakat, jika diterapkan dalam konteks kekinian, juga mencerminkan hilangnya spirit keadilan sosial dan ekonomi. Misalnya aturan tentang nisab. Di zaman Nabi, nisab untuk beberapa harta kena zakat nilainya sama (Monzer Kahf, 1999). Nisab sapi (30 ekor) nilainya sama dengan nisab kambing (40 ekor) dan emas (20 dinar). Jika kita mengikuti aturan nisab tersebut saat ini, kita tidak bisa mengatakan bahwa 30 ekor sapi nilainya sama dengan 40 ekor kambing. Jika nisab sapi senilai Rp 150 juta (asumsinya 1 sapi = Rp 5 juta), maka nilai nisab kambing hanya sekitar 32 juta (asumsinya 1 kambing = Rp 800 ribu). Implikasinya, menjadi tidak adil bila seorang peternak kambing dengan omset senilai 32 juta dibebani kewajiban membayar zakat, sementara peternak sapi dengan omset yang sama (i.e., 32 jt) tidak dibebani kewajiban serupa hanya karena belum sampai nisabnya.

Persoalan nisab akan lebih tampak manakala kita menyertakan pertimbangan geografis. Jika diasumsikan nisab harta perdagangan senilai Rp 8,5 juta per tahun (asumsinya setara dengan nisab emas 85 gram menurut Yusuf Qardawi, dan 1 gr emas setara Rp 100rb), maka setiap pedagang muslim yang memiliki omset senilai itu, di manapun ia berada di Indonesia, wajib mengeluarkan zakatnya sebesar 2.5%. Padahal, nilai uang Rp 8.5 juta bagi pedagang di kota-kota besar berbeda dengan nilai uang yang sama bagi pedagang di daerah-daerah terpencil. Logikanya, standar besarnya nisab pun mestinya berbeda pula, tergantung tingkat pendapatan ekonomi suatu wilayah.

Formalitas zakat juga menyisakan persoalan dalam hal penentuan harta kena zakat. Jika kita mengacu pada aturan fiqh klasik, maka harta yang wajib di zakati hanya l ogam mulia (emas dan perak), ternak (onta, sapi dan kambing), pertanian, perniagaan, barang tambang, dan barang temuan. Padahal, di masa kini, banyak sumber-sumber penghasilan besar terdapat di luar tujuh sektor tersebut. Dunia inidustri, entertainment, dan bisnis-bisnis jasa lainnya merupakan ladang penghasilan yang jauh lebih besar tingkat pendapatannya daripada pendapatan petani di Indonesia. Di tahun 2003 saja, pendapatan petani hanya sekitar 1,25 juta per tahun (Khudori, 2004) atau sekitar 100 ribu perbulan. Jumlah tersebut belum termasuk ongkos produksi dan transaksi yang dapat mencapai 75% (Yustika, 2003). Padahal, menurut aturan fiqh, mereka harus mengeluarkan zakat setiap kali panen mencapai hasil lebih dari 650 kg (gabah kering). Maka menjadi tidak adil jika para petani dibebani zakat dengan standar nisab sekecil itu, sementara pelaku-pelaku bisnis dan dunia usaha tidak hanya karena ladang pekerjaan mereka tdiak tersebut dalam fiqh klasik.

Model pendistribusian dana yang tidak menyertakan pemetaan ekonomi dan sosial juga menjadi cermin hilangnya spirit keadilan sosial ekonomi dalam zakat. Tidak sedikit muzakki yang langsung memberikan zakat kepada faqir dan miskin tanpa memperhatikan apakah dana zakat tersebut mampu meningkatkan level kesejahteraan mereka atau tidak. Muzakki mungkin hanya berpikir tentang hukum, bahwa cukup baginya mengeluarkan zakat, sehingga kewajibannya sebagai muslim gugur. Di sinilah pentingnya amil dalam proses penyaluran zakat. Lembaga amil yang profesional sangat diperlukan agar proses pengumpulan dana (fundraising) serta pendistribusiannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Salah satu membuatnya efektif dan efisien adalah dengan melakukan pemetaan sosial dan ekonomi. Susahnya, kadang-kadang kita menganggap amil hanya sekedar sebagai pos pengumpul zakat, tanpa tuntutan kerja optimal untuk usaha fundraising dan pola pendistribusian dana yang profesional. Amil semacam ini sebenarnya tidak layak menerima porsi dana zakat sebagaimana yang diamanatkan al-Quran (9: 60).

Melihat beragam persoalan teknis-konseptual seperti tersebut di atas, ada beberapa hal yang penting diperhatikan untuk lebih mengoptimalkan pendayagunaan zakat bagi keadilan sosial ekonomi serta kesejahteraan umum.

Pertama adalah konsep “harta kena zakat”. Perlu dicermati bahwa harta kekayaan yang dikenal di Madinah pada masa Nabi SAW hanyalah investasi dagang, tanah pertanian, serta logam mulia (emas dan perak) termasuk yang digunakan sebagai uang dan perhiasan. Masyarakat waktu itu tidak mengenal bentuk-bentuk kekayaan modern seperti yang dikenal pada masyarakat industri (Kahf, 1999). Ketika bisnis jasa dan industri menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat modern, maka harus ada pengembangan tentang konsep “harta kena zakat”, lebih dari sekedar harta-harta yang dikenal di masa Nabi. Jika tidak, maka institusi zakat akan kehilangan ruhnya sebagai penopang keadilan ekonomi dan kesejahteraan umum.

Kedua adalah standar konvensional nisab, yang  seharusnya sesuai dengan situasi sosial dan ekonomi lokal. Di atas telah disebutkan bahwa ada dua persoalan yang berkaitan dengan standar nisab. Pertama berkaitan dengan kesamaan nilai nisab pada harta-harta kena zakat. Kedua berkaitan dengan kesamaan nilai nisab pada daerah-daerah yang kondisi sosioekonominya berbeda. Untuk mengatasi persoalan ini, perlu ada sebuah tim penentuan nisab kontemporer, yang terdiri atas para ahli hukum Islam dan ekonomi. Tim ini akan merumuskan satu standar nisab bagi harta-harta kena zakat, sehingga nilainya semua sama, sebagaimana yang pernah berlaku di zaman Nabi. Selain itu, tim juga akan merumuskan standar “Nisab Minimum Regional” (NMR) dengan memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi suatu wilayah. Dengan demikian tidak ditemukan lagi standar nisab yang bagi suatu wilayah terlampau kecil, sementara bagi wilayah lain justru sebaliknya.

Ketiga adalah soal konsep mustahiq. Upaya reformasi mustahiq ini sebenarnya pernah dikemukakan Masdar Farid (1993) lewat karyanya, Agama Keadilan: Risalah Zakat (Pajak) dalam Islam. Saripati ide Masdar tentang mustahiq ini penting dicermati, karena akan memungkinkan lembaga-lembaga zakat mendistribusikan dananya untuk kepentingan yang lebih relevan dengan kebutuhan sosial dan ekonomi saat ini. Misalnya tentang konsep budak. Sebagai salah satu penerima zakat yang ditentukan Alquran, budak saat ini sudah tidak ada. Namun, bukan berarti pos dana untuk budak sudah tidak ada. Dana untuk ini dapat disalurkan untuk membebaskan orang-orang yang tertindas atau tidak berdaya menghadapi kekuatan sosial dan ekonomi yang mengungkungnya. Dana untuk “budak” dapat dimanfaatkan misalnya untuk mendanai upaya advokasi korban-korban penggusuran dan meminimalisasi efek kapitalisme global bagi masyarakat kecil.

Keempat adalah penguatan posisi amil. Posisi amil sebagai salah satu mustahiq yang ditentukan Allah (QS. 9: 60) bukanlah tanpa maksud. Penyebutan posisi ini dalam Alquran mengisyaratkan bahwa Tuhan menginginkan adanya pengelolaan dana zakat yang profesional oleh institusi atau kelompok orang tertentu yang disebut amil. Mereka inilah yang melakukan upaya fundraising, sekaligus mengelola dan mendistribusikannya untuk kepentingan tujuan zakat. Untuk kerja mereka inilah mereka berhak mendapat sebagian dana zakat, dan karena itu nama mereka disebut dalam Alquran. Konsekuensinya, lembaga atau orang yang mengatasnamakan amil namun tidak mengeluarkan daya upaya untuk mengumpulkan, mengelola dan mendistribusikannya secara profesional, maka mereka tidak layak mendapatkan porsi dana zakat. Amil semacam ini justru menggerogoti spirit keadilan sosial dan ekonomi dalam zakat.

Berkaitan dengan penguatan posisi amil ini, peningkatan profesionalisme lembaga-lembaga zakat adalah factor kunci. Profesionalisme ini meliputi upaya proaktif dalam fundraising dengan dua tujuan: meningkatkan pendapatan dana zakat dan meningkatkan jumlah orang sadar zakat. Termasuk profesionalisme lembaga zakat adalah mengoptimalkan pengelolaan dana zakat untuk pemberdayaan ekonomi dan peningkatan sektor riil. Karena itu, lembaga zakat perlu memiliki pemetaan sosial ekonomi yang baik, sehinga dana zakat tepat sasaran. Selain itu, model penyaluran dana zakat yang produktif harus lebih menjadi orientasi lembaga-lembaga zakat, daripada pola-pola distrubusi dana konsumtif.

Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas, zakat akan lebih bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan produktivitas masyarakat luas. Sudah saatnya pengelolaan dana zakat mengikuti misi profetik yang diemban Nabi, yaitu misi keadilan distribusi ekonomi dan meminimalkan konsentrasi harta hanya pada kelompok elit tertentu. Barangkali negara masih belum mampu membebaskan diri dari kungkungan monster-monster ekonomi global. Namun dengan ajaran Muhammad, umat Islam dapat mengilhami pemerintah di negeri ini bagaimana cara berdiri di atas kaki sendiri dan melepaskan ekonomi kita dari neoimperialisme negara-negara kapitalis. Salah satunya melalui manajemen zakat profesional. Itu menurut saya.

Bagaimana menurut anda?

Posted by Muhammad Asrori,S.Kom at 07:53:55 | Permalink | No Comments »

Pendaratan Manusia di Bulan: Mengungkap Mukjizat Nabi Muhammad dan Kebenaran Al-Qur’an

Eksplorasi Bulan ditandai dengan slogan: “One small step for man; one giant leap for mankind“. Peristiwa bersejarah dalam penyelidikan ruang angkasa ini didokumentasikan oleh kamera dan setiap orang sejak itu dapat menyaksikan hal ini. Sebagian orang menganggap peristiwa pendaratan manusia di bulan sebagai sebuah “hoax” atau kebohongan. Bagi penulis, peristiwa tersebut diyakini kebenarannya. Tulisan ini mencoba mengkaitkan peristiwa pendaratan di bulan dengan mukjizat Nabi dan kebenaran Al-Qur’an khususnya QS 54:1 dari beberapa hal.

Tulisan ini penulis awali dengan penyampaian sebuah kisah tentang masuk Islamnya seorang bernama David Musa Pidcock yang sebelumnya beragama Katolik. Sebagai catatan, David Musa Pidcock  sekarang menjabat sebagai ketua “British Muslims Party”. Cerita masuk Islamnya David Pidcock menjadi bagian penting untuk meyakinkan bahwa pendaratan manusia di bulan bukan sesuatu “hoax”. Secara ringkas masuk Islamnya David Pidcock dapat dikisahkan sebagai berikut (banyak website yang mengangkat cerita masuk Islamnya David Pidcock yang dikaitkan dengan bulan telah terbelah). Ketika dia (sebelum masuk Islam) sedang meneliti agama-agama yang ada, seorang teman memberinya sebuah Al-Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggris. Ketika dia buka dan kebetulan yang terbuka pertama kali adalah surat Al-Qamar dan membacanya “Hari Akhir sudah dekat dan bulan telah terbelah”. Membaca ayat ini, dia berguman “bulan telah terbelah?” Dia lalu berhenti membaca dan tidak membukanya lagi.  Kemudian pada suatu hari, sementara dia sedang menonton acara televisi BBC, penyiar sedang berbincang-bincang dengan tiga ilmuan Amerika Serikat, dan penyiar menyalahkan Amerika karena telah menghabiskan dana lebih dari milyaran dolar untuk proyek ruang angkasanya, sementara pada waktu yang sama jutaan manusia berada dalam kemiskinan. Ilmuan-ilmuan tersebut mencoba menjelaskan mengapa eksplorasi ruang angkasa begitu penting. Ilmuan tersebut menjelaskan bahwa perjalanan ke bulan menelan dana sekitar 100 milyar dolar. Penyiar berkomentar: “untuk menancapkan bendera Amerika di bulan anda menghabiskan uang sebanyak itu?”.  Ilmuan-ilmuan tersebut menyatakan bahwa uang sebanyak itu dihabiskan karena mereka mencoba mempelajari struktur batuan bulan untuk melihat kesamaan yang dimiliki bulan dengan bumi, dan kata mereka, mereka terkejut mendapati sebuah “belt of rocks” yang memanjang dari permukaan bulan menuju ke kedalaman (lihat Gambar yang berhasil diambil dalam misi Apolo 11 – misi pendaratan di bulan).  Karena sangat keterkejutaanya, mereka berikan informasi tersebut pada ahli geologi, yang juga terkejut, dan berkesimpulan bahwa hal ini tidak akan terjadi kalau bulan tidak pernah terbelah dan menyatu kembali. Batuan dalam sabuk (belt) tersebut adalah sebagai dampak yang terjadi pada saat dimana dua bagian bulan bersatu kembali. Melihat hal ini, David Musa Pidcock lompat dari duduknya dan berteriak “Ini adalah mukjizat Muhammad yang terjadi lebih dari 1400 tahun yang lalu, dan sekarang Amerika menghabiskan milyaran dolar untuk membuktikannya pada orang Islam”. Dia lalu berguman “Ini pasti sebuah agama yang benar”, dan surat Al-Qamar yang sebelumnya merupakan penyebab bagi dia tidak percaya pada Islam, sekarang surat tersebut sebagai alasan bagi dia memeluk Islam. Bagi sebagian orang yang meragukan (tidak percaya) terhadap peristiwa pendaratan manusia di bulan, mungkin bisa direnungkan pertanyaan penulis berikut: “Mungkinkan Allah memberikan hidayah pada seseorang  melalui sesuatu “hoax” (kebohongan)?”. 

Dari satu sisi peristiwa pendaratan manusia di bulan telah memberikan bukti bahwa bulan pernah terbelah yang diyakini merupakan mukjizat Nabi Muhammad seperti yang disebutkan pada kitab Hadist. Di sisi lain peristiwa pendaratan manusia di bulan juga dapat dikaitkan erat dengan Al Qur’an surat Al-Qamar ayat 1 jika dilihat dari beberapa aspek yang terkait dengan fenomena yang terkait dengan peristiwa pendaratan tersebut. Berikut ini beberapa fenomena menarik yang mungkin dapat memberikan pencerahan kepada pembaca mengenai kebenaran peristiwa pendaratan di bulan yang terkait dengan QS Al-Qamar ayat 1 sebagai berikut:

1. Kata “terbelah” yang digunakan dalam ayat ini (QS 54:1) merupakan terjemahan dari kata “syaqqa”, yang dalam bahasa Arab memiliki beberapa arti, tetapi terjemahan “terbelah” lebih disukai. Kata “SYAQQA” dalam bahasa Arab juga bisa berarti “MENGGALI” atau “MEMBELAH dalam arti bukan membelah jadi dua). Salah satu contoh dalam Al-Qur’an bisa dilihat pada QS 80:25-29 (Surah Abasa) yang artinya: “Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, Zaitun dan pohon kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu”. Di sini jelas bahwa bumi tidak dibelah jadi dua. Istilah yang pas mungkin “gali tanah”. Ketika kata “syaqqa” diartikan sebagai “tergali”, maka ketika 21 kilogram batuan yang digali berhasil dibawa astronot dari bulan menuju bumi dapat dikatakan bahwa bulan telah tergali (terbelah).  

2. Peristiwa keberangkatan astronot Amerika dari bulan menuju ke bumi dengan membawa 21 kilogram batuan bulan tercatat pada pukul 17:54:1 (waktu untuk seluruh negara/universal time) atau pukul 1:54:1 EDT. Waktu menit dan detik ini tepat bersesuaian dengan QS 54:1 yang artinya “Hari Akhir sudah dekat dan Bulan telah terbelah”.  

3.  Peristiwa pendaratan manusia di bulan, khususnya pada saat kepulangan astronot dari bulan menuju bumi yang terjadi pada tahun 1969 M (kalender Masehi) bertepatan dengan tahun 1389 H (kalender hijriyah). Jika kita hitung jumlah seluruh ayat Al Quran setelah  QS 54:1 (dari ayat 2 Surat Al-Qamar) sampai dengan ayat terakhir dalam Al-Quran akan ditemukan sebanyak 1389 ayat. Jadi secara tidak langsung Al-Qur’an menyatakan bahwa manusia akan mendarat di bulan pada tahun 1389 H.  

4. Banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia ini atau di alam semesta ini mengacu pada kode-19, termasuk Al-Qur’an sendiri juga didisain oleh Allah berdasarkan bilangan (kode) 19. Bilangan 19 ini merujuk pada keesaan Allah, karena 19 merupakan total nilai numerik dari kata “waahid” (sistem numerik ini bisa dibaca lebih jauh pada salah satu tulisan di website ini, atau kalau belum jelas bisa kontak penulis melalui email alisaidma@yahoo.com).

Contoh beberapa kejadian di alam semesta yang mengacu pada bilangan 19:

·           Telah dibuktikan bahwa bumi, matahari dan bulan berada pada posisi yang relatif sama setiap 19 tahun

·           Komet Halley mengunjungi sistim tata surya kita sekali setiap 76 tahun (19×4).

·           Fakta bahwa tubuh manusia memiliki 209 tulang atau 19×11.

·          Langman’s medical embryology, oleh T. W. Sadler yang merupakan buku teks di sekolah kedokteran di Amerika Serikat diperoleh pernyataan “secara umum lamanya kehamilan penuh adalah 280 hari atau 40 minggu setelah haid terakhir, atau lebih tepatnya 266 hari atau 38 minggu setelah terjadinya pembuahan”. Angka 266 dan 38 kedua-duanya adalah kelipatan dari 19 atau 19×14 dan 19×2. 

Bagaimana dengan peristiwa pendaratan manusia di bulan? Apakah peristiwa tersebut mengacu pada bilangan 19? Marilah kita simak bersama catatan-catatan atau data-data yang menyangkut peristiwa pendaratan tersebut.

- Armstrong, orang pertama yang menapakkan kakinya di bulan pada saat itu berumur 38 tahun.

   38 = 19 x 2

- Apollo 11 masuk ke orbit bulan pada tanggal 19 Juli 1969
19+7+1969=1995=19 x 5

- Lunar Module (bagian pendarat Apollo 11) menyentuh/mendarat di bulan terjadi pada jam: 4:18 p.m. EDT
418 = 19 x 22

- Astronot mendarat di bulan pada 20 Juli 1969. Penulisan tanggal menurut aturan Amerika adalah mm/dd/yyyy (bulan/tanggal/tahun). Jadi kalau tanggal tersebut dituliskan dalam sistem Amerika adalah 07/20/1969. Jika urutan bilangan tersebut dijadikan sebuah bilangan akan diperoleh 7201969. Angka ini merupakan kelipatan 19 (7201969 = 19 x 379051).

- Peristiwa keberangkatan dari bulan menuju bumi terjadi pada 21 Juli 1969 atau 21/07/1969. Jika angka-angka tersebut dituliskan sebagai satu bilangan didapat 21071969, dan 21071969 = 19 x 1109051 (bilangan kelipatan 19).

- Sekarang marilah kita tambahkan nomor Surah (54), nomor ayat (1), hari (21), bulan (07) dan tahun (1969), kita dapatkan:54 + 1 + 21 + 7 +1969 = 2052 or 19 x 108 (merupakan bilangan kelipatan 19).   

Jadi ketika kata “SYAQQA” diterjemahkan dengan “terbelah”, maka makna tersebut juga terpenuhi karena ada bukti yang diperoleh ilmuan Amerika dalam misi pendaratan di bulan tersebut yang menyimpulkan bahwa bulan pernah terbelah, sementara jika kata “SYAQQA” diterjemahkan dengan “tergali”, maka peristiwa diambilnya 21 kg batuan bulan yang dibawa ke bumi juga secara langsung mencerminkan keajaiban Al-Qur’an itu sendiri berdasarkan catatan waktu terjadinya peristiwa tersebut.

Sebagai penutup, kiranya tulisan ini dapat menjadikan pembaca bertambah keimanannya. Peristiwa pendaratan di bulan merefleksikan kekuasaan dan keesaan Allah yang tercatat dalam Al-Qur’an dan sekaligus membuktikan bahwa peristiwa pendaratan di bulan yang terkait erat dengan Al-Qur’an bukanlah merupakan  sesuatu hal yang kebetulan.  Mengapa? Karena Allah telah menghitung segala sesuatunya secara detil. QS 72 ayat 28 menyatakan dan Allah menghitung segala sesuatunya satu per satu (secara detil)” (QS 72:28). Ditambahkan pula bahwa seluruh rentetan kejadian yang menyangkut proyek Apollo karena atas izin Allah. QS 55:33 menyebutkan “Hai jemaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya tanpa otorisasi” (catatan: “otorisasi” merupakan terjemahan yang umumnya dipakai oleh terjemahan Al Qur’an berbahasa Inggris, sementara terjemahan DEPAG adalah “kekuatan”). Semoga kita dijauhkan dari apa yang disebutkan dalam QS Al-Qamar ayat 2-3 sebagai berikut: “Dan jika mereka melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: “(Ini adalah) sihir yang terus menerus, dan mereka mendustakan dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya”.

Wallohu a’lam.

Referensi:

  1. Said, A. 2005, Al-Qur’an: Sebuah Keajaiban bersifat Matematis, tulisan tidak dipublikasikan.

  2. http://zaidimz.org/homebiz2u/photo.php?photoid=584

  3. http://www.harunyahya.com

  4. http://www.quranm.multicom.ba/science/6e-tefsir.htm

  5. http://www.usn2161.net/moonsplit.html

  6. http://www.islamicity.com

Posted by Muhammad Asrori,S.Kom at 07:46:24 | Permalink | No Comments »

Thursday, June 5, 2008

BAGAIMANA CARA MEMBUAT BAJA MENURUT AL-QUR’AN?

Metalurgi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana membuat suatu logam dari campuran logam dengan unsur lain. Qur’an dalam bahasa yang sederhana menceritakan bagaimana baja dibuat, dengan memberikan cerita tentang perjalanan Zul Qarnain ke suatu tempat di antara dua bukit (Surat Al Kahfi S 18:92-97). Di antara kedua bukit tersebut Zul Qarnain bertemu dengan orang-orang yang hampir-hampir tidak mengerti perkataan orang lain. Orang-orang tersebut mengadu padanya tentang Ya’juj dan Ma’juj dan bagaimana mereka telah membuat kerusakan dan korup. Orang-orang tersebut meminta Zul Qarnain sekiranya dia dapat membuat pembatas antara mereka dan Ya’juj dan Ma’juj. Maka diapun membuatkan pembatas tersebut dengan meminta bantuan orang-orang tersebut, dan apa yang dia kerjakan seperti yang dijelaskan pada ayat berikut (QS 18:96):   

“Berilah aku potongan-potongan besi (masses of iron). Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua bukit itu, berkatalah dia (Dzulqarnain): “Tiuplah”. Hingga ketika besi itu sudah menjadi merah seperti api, diapun berkata “Berilah aku QITHR agar kutuangkan ke atas besi panas itu” (QS Al Kahfi ayat 96). 

Perlu dijelaskan di sini bahwa ada sedikit variasi atau perbedaan dalam terjemahan terhadap ayat tersebut khususnya berkaitan dengan kata “QITHRAAN”. Ketika penulis bandingkan sekitar 8 terjemahan (2 versi bahasa Indonesia dan 6 versi bahasa Inggris), secara umum dapat kita kelompokkan menjadi 4 kelompok dalam menerjemahkan kata “Qithraan”. Keempat terjemahan tersebut memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Keempat jenis terjemahan tersebut adalah (molten) copper (tembaga yang meleleh/mendidih), (molten) lead (timah yang meleleh), (molten) brass (kuningan yang meleleh), dan tar (ter/tir). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalen, Tafsir Thabari and Tafsir Qurtubi, kata “qithr” ditafsirkan sebagai “tembaga”. Kata “yang meleleh (molten)” merupakan tafsiran tambahan. Jika kita lihat Kamus Inggris-Indonesia-Arab susunan Attabik Ali, diperoleh bahwa arti dari qithr adalah tar (Inggris) dan ter/tir (Indonesia).   Untuk menentukan terjemahan yang paling tepat, hal ini dapat ditinjau dari perspektif sains modern. Berdasarkan ilmu metalurgi, baja dibuat dari dua unsur yaitu besi dan karbon. Selanjutnya jika kita amati, ter/tir (yang berwarna hitam yang merupakan campuran aspal dan minyak dan bisa juga disebut sebagai minyak mentah) jelas banyak mengandung unsur karbon. Jadi dalam cerita Zulkarnain di atas jelas apa yang seharusnya dituangkan kedalam besi telah memerah panas seperti api adalah tir/ter, karena dengan menuangkan ter/tir tersebut terjadilah percampuran antara besi dan karbon sehingga terbentuklah baja, yang sifatnya lebih keras dan kuat dibandingkan besi. Maka pada ayat berikutnya (QS Al Kahfi ayat 97) diceritakan “mereka tidak bisa melobanginya”. Selain itu jika kata “qithran” diterjemahkan sebagai ‘tembaga’, ‘timah’, atau ‘kuningan’, maka diperlukan sebuah penafsiran lagi (tafsiran tambahan) yaitu ‘yang meleleh’. Kalau diterjemahkan atau ditafsirkan sebagai ‘ter/tir’ tidak perlu ada penafisran tambahan karena tir/ter memang bentuknya sudah cair sehingga tinggal disiramkan saja ke atas besi yang sudah panas membara seperti api. Dengan demikian, QS Al Kahfi Ayat 96 akan lebih tepat diterjemahkan sebagai berikut: Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga ketika besi itu telah sama rata dengan kedua bukit itu, berkatalah dia (Dzulqarnain): “Tiuplah”. Hingga ketika besi itu sudah menjadi merah seperti api, diapun berkata “Berilah aku ter/tir agar kutuangkan ke atas besi panas itu.

Walloohu a’lam

Posted by Muhammad Asrori,S.Kom at 03:16:35 | Permalink | No Comments »

Tinjauan Tafsir Beberapa Ayat Al-Qur’an yang Terkait Masalah Sains Modern


Qur’an memiliki kebenaran yang mutlak karena merupakan firman Allah. Meskipun Allah telah menegaskan bahwa Qur’an diturunkan dengan bahasa yang mudah dipahami dan mudah dipelajari(QS 44:58), akan tetapi ketika Qur’an dimasuki pemikiran-pemikiran manusia (berupa tafsiran) terkadang arti yang sebenarnya (genuine meaning) dari ayat-ayat Qur’an terkadang menjadi hilang. Hal ini terjadi karena akal pikiran manusia memiliki keterbatasan untuk menembus dan memahami kedalaman makna yang terkandung dalam suatu ayat. Karena keterbatasan tersebut, tafsiran yang dihasilkan pada akhirnya juga memiliki kebenaran yang relatif. Kesimpulan tersebut, untuk sementara ini, didukung oleh hasil tinjauan terhadap beberapa tafsir ayat-ayat Qur’an khususnya yang terkait dengan masalah sains (ilmu pengetahuan), dimana pemikiran para ahli tafsir jaman dahulu tidak mampu memahami kedalaman makna atau kata-kata yang digunakan oleh Allah dalam Al Qur’an. Selain itu, salah satu metode yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat tertentu para ahli tafsir sering menghubungkannya dengan ayat-ayat lain yang terkadang sebenarnya tidak ada hubungan sama sekali. Hal ini dapat ditunjukkan pada kajian beberapa ayat yang akan dibahas dalam tulisan ini.

Secara definisi, Tafsir adalah upaya untuk memahami ayat-ayat Qur’an dimana teks-teks dalam  Qur’an diberi penjelesan baik secara singkat maupun secara panjang lebar. Tujuan utama dari kegiatan pentafsiran adalah mempermudah orang awam dalam memahami isi Qur’an. Sejalan dengan perjalanan waktu, berbagai macam jenis tafsir telah dihasilkan dari yang bersifat konvensional sampai dengan tafsir modern dengan mempertimbangkan nilai-nilai yang berlaku pada zamannya. Dari berbagai jenis tafsir yang ada, ada perbedaan dalam penyusunan tafsir khususnya dalam hal pendekatan dan penekanan yang digunakan. Ada jenis tafsir yang menekankan pada aspek historis dari teks Qur’an. Ada juga jenis tafsir yang sebagian besar didasarkan pada hadist dan yang menginterpretasikan ayat Qur’an menurut tradisi yang diceritakan dari Nabi dan Imam, atau dari sahabat dan tabi’in. Jenis lain dari tafsir Qur’an didasarkan pada penggunakan akal/rasio sebagai instrument untuk memahami maksud dari Qur’an. Dari sekian tafsir yang beredar, mungkin ada jenis tafsiran yang bersifat bias dalam arti mencoba membuat teks Qur’an sesuai dengan pandangan awal dari seorang pentafsir, dan ada juga yang tidak bias (tidak ada upaya mengarahkan pemahaman Qur’an pada pandangan awal seorang pentafsir).

Dua Pendekatan Tafsir: Analitik dan Tematik

Terlepas dari bias dan tidaknya suatu tafsir, secara prinsipil ada dua metode tafsir yang berkembang sejalan dengan tumbuhnya pemikiran Islam. Kedua metode tersebut masing-masing dikenal sebagai “pendekatan analisis” (al-’ittijah al-tajzi’i fi al-tafsir) dan pendekatan tematik atau sintetik (al-’ittijah al-tawhidi aw al-mawdu’i fi al-tafsir). Pendekatan tematik umumnya telah membantu dalam pengembangan pemikiran hukum Islam (fiqh) dan memperkaya studi ilmiah dalam bidang ini. Sebaliknya, pendekatan analitik dalam studi Qur’an umumnya melekat pada perkembangan pemikiran Islam – perkembangan pendekatan tafsir dapat dikatakan ‘mandek’ atau tidak menghasilkan karya baru selama beberapa abad setelah terbitnya tafsir karya At-Tabari, Ar-Razi, dan Al-Syaikh At-Tusi.

Tafsir Qur’an yang didasarkan pada pendekatan analitik menekankan pentafsiran ayat demi ayat menurut urutan dikumpulkannya atau diturunkannya ayat tersebut. Tafsir yang mengikuti penedekatan ini mempertimbangkan berbagai aspek yang dirasa efektif seperti makna secara literal, tradisi, dan keterkaitan dengan ayat-ayat lain yang memiliki beberapa kata atau makna yang kurang lebih sama. Pentafsir yang menggunakan pendekatan ini mencoba untuk mengungkap dan memahami ayat Qur’an dengan mempertimbangkan kontek pada saat suatu ayat diturunkan.

Pada dasarnya, tujuan dari metode atau pendekatan analitik adalah untuk memberikan penjelasan terhadap firman Allah yang mungkin bisa dipahami oleh sebagain besar umat Islam pada permulaan perkembangan Islam. Metode tafsir dengan pendekatan analitik berkembang mulai era Sahabat dan Tabi’in, dan mengalami kemajuan yang yang lambat tapi pasti. Akhirnya sampai dengan akhir abad ke-3 dan awal abad ke-4, muncul beberapa tafsir yang lengkap seperti hasil karya Ibnu Majah dan At-Tabari. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan waktu dan lamanya jarak dari periode turunnya Qur’an serta perubahan jaman, beberapa makna atau tafsiran menjadi sulit dipahami/kurang jelas. Sebagai akibatnya, perkembangan metode analitik mengikuti kecenderungan ketidakjelasan dalam memahami teks Qur’an, sampai akhirnya muncul beberapa tafsir yang mengupas secara berurutan dimulai dari Surat Al-Fatihah sampai dengan surat terakhir, Surat An-Naas yang mentafsirkan ayat-demi ayat.

Sementara itu, pada pendekatan tematik, tafsir Qur’an tidak dilakukan ayat demi ayat. Sebaliknya pendekatan ini digunakan untuk mencoba mempelajari Qur’an dengan mengambil tema tertentu dari berbagai konteks seperti sosial dan doktrinal yang dibahas atau disebutkan dalam Qur’an. Tafsir dengan pendekatan tematik, misalnya, membahas masalah doktrin tauhid dalam Qur’an, konsep kenabian dalam Qur’an, pendekatan Qur’an terhadap ilmu ekonomi, hukum-hukum Islam, kosmologi Qur’an dan sebagainya. Melalui studi-studi tersebut, metode ini mencoba menentukan pandangan-pandangan Qur’an sebagai konsekuensi dari pesan Islam yang berkaitan dengan isu tertentu dalam kehidupan ini. Jadi jelaslah bahwa pendekatan tematik tidak menekankan pemahaman Qur’an ayat demi ayat melainkan memahami ayat-ayat Qur’an yang dikaitkan dengan konteks atau tema tertentu yang sering dijumpai dalam kehidupan di alam semesta ini.

Dari kedua jenis pendekatan tafsir, tampaknya metode analitik lebih populer karena telah mendominasi berabad-abad dengan produk-produk tafsir yang sangat terkenal seperti Tafsir Jalalen, Tafsir Qurtubi, Tafsir Ibu Katsir dan Tafsir Munir. Meskipun demikian, perlu ditekankan bahwa sebenarnya tidak ada garis pembatas atau pemisah antara kedua jenis metode tafsir tersebut baik pada tataran praktis maupun kegiatan pentafsiran sepanjang sejarah, karena terbukti pendekatan tematik dalam mengkaji Qur’an memerlukan metode analitik untuk mendapatkan kejelasan makna dari ayat-ayat yang terkait dengan topik yang sedang dibahas.

Beberapa kitab tafsir yang disebutkan di atas (Tafsir Jalalen, Tafsir Qurtubi, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Munir (Nawawi)) telah banyak dipakai sebagai dasar dalam mengkaji dan memahami isi Qur’an. Tidak jarang, tafsir-tafsir tersebut juga digunakan sebagai rujukan dalam menterjemahkan Qur’an ke berbagai bahasa, khususnya untuk menjelaskan beberapa ayat yang dirasa memerlukan penjelasan lebih jauh. Dari berbagai kitab tafsir tersebut tentunya ada beberapa perbedaan dan juga persamaan. Misalnya, kata tertentu dalam suatu ayat ditafsirkan atau dijelaskan secara panjang lebar dalam kitab tafsir tertentu, tetapi tidak ditafsirkan sama sekali dalam kitab tafsir yang lain karena dianggap sudah jelas. Selain perbedaan tersebut, beberapa kitab tafsir yang ada juga memiliki persamaan dalam mengartikan atau mentafsirkan kata-kata tertentu dalam ayat Qur’an. Tidak jarang pula, kitab tafsir yang satu menjadi rujukan kitab Tafsir yang lain.

Mengingat tafsir pada dasarnya merupakan penjelasan terhadap makna dari kata-kata yang terpisah/terisolasi, dalam arti persamaan kata atau sinonim diberikan, bentuk kata-kata yang tidak familiar dijelaskan, dan beberapa ide dan pemikiran diterapkan pada kondisi dimana ayat Qur’an diturunkan (asbab al-nuzul), kegiatan pentafsiran tersebut tentunya kurang dalam mengadopsi hal-hal yang bersifat inovatif yang memungkinkan seseorang memahami suatu ayat Qur’an jauh di atas sekedar memahami arti secara kata demi kata atau mencapai ide dasar yang ditawarkan Qur’an yang dijabarkan dalam ayat-ayat yang tersusun dalam 114 surat.

Sebagian besar ahli tafsir mendasarkan tafsirannya pada kitab-kitab hadist baik yang mengungkap masalah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para sahabat, maupun tradisi-tradisi yang berlaku pada jaman Nabi, Imam, Shabat dan Tabi’in. Selain itu, tafsir juga didasarkan pada kamampuan seorang ahli tafsir dalam memahami sebuah ayat, sehingga dalam hal ini pemahaman terhadap maksud dari ayat Qur’an juga dipengaruhi oleh pemikiran seseorang yang tentunya memiliki keterbatasan-keterbatasan. Dengan adanya keterbatasan tersebut, kebenaran tafsir terhadap ayat tertentu juga mungkin memiliki keterbatasan. Berdasarkan hal tersebut, penulis mencoba untuk mengkaji atau meninjau tafsir terhadap beberapa ayat Qur’an khususnya yang terkait dengan masalah sains (ilmu pengetahuan modern), dimana para ahli tafsir kontemporer sangat mungkin telah menafsirkan kurang tepat ayat-ayat tertentu atau kata-kata tertentu dalam ayat Qur’an, karena adanya keterbatasan-keterbatasan yang ada. Sekali lagi ditekankan bahwa yang dibahas dalam kajian ini hanyalah ayat-ayat yang menyangkut masalah sains.

Metode Kajian 

Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan membandingkan beberapa versi terjemahan Qur’an yang ada. Di antara sekian banyak terjemahan Qur’an, penulis hanya mengambil sekiatar delapan versi terjemahan sebagai perbandingan, termasuk dalam perbandingan ini  adalah Terjemah Qur’an versi Departemen Agama RI yang umumnya dipakai sebagai acuan masyarakat Indonesia, terjemahan versi Prof. Mahmud Yunus dan terjemahan versi Abdullah Yusuf Ali (dalam bahasa Inggris yang banyak digunakan). Selanjutnya, beberapa kitab tafsir yang membahas tentang ayat yang dikaji juga disajikan sebagai bahan perbandingan. Setelah itu, perbandingan terjemahan dan tafsiran dari ayat-ayat yang dikaji tersebut diverifikasi dan ditinjau berdasarkan perspektif sains modern atau ilmu pengetahuan yang berkembang saat ini untuk menentukan tafsir mana yang lebih mendekati kebenaran. Mengingat banyaknya ayat Qur’an yang berkaitan dengan sains modern, pembahasan hanya akan dibatasi pada beberapa ayat yang menurut penulis menarik untuk dikaji mengingat beragam tafsiran terhadap ayat-ayat tersebut yang tentunya tidak mengacu pada fakta-fakta terbaru yang telah ditemukan dalam dunia ilmu pengetahuan sekarang ini.

Kajian Tafsir beberapa Ayat yang Berhubungan dengan Sains 

Untuk mendukung pernyataan di atas, berikut ini hanya akan dibahas 5 ayat yang menarik untuk dijadikan sebagai kajian. 

(1) Surat Al Kahfi Ayat 96 (QS 18:96) 

Terjemahan dalam 8 versi adalah sebagai berikut:

Departemen Agama RI
Berilah aku potongan-potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”.
Prof. Mahmud Yunus
Berilah aku beberapa potong besi, sehingga apabila sama tinggi besi itu dengan kedua belah gunung itu maka Zul karnain berkata: Tiuplah api! Sehingga apabila besi itu telah menjadi api, ia berkata: Berilah aku tembaga, supaya kutuangkan ke dalam api itu (sehingga besi berpadu dengan tembaga menjadi satu)
Rashad Khalifa
“Bring to me masses of iron.” Once he filled the gap between the two palisades, he said, “Blow.” Once it was red hot, he said, “Help me pour tar on top of it.”
Yusuf Ali
“Bring me blocks of iron.” At length, when he had filled up the space between the two steep mountain-sides, He said, “Blow (with your bellows)” Then, when he had made it (red) as fire, he said: “Bring me, that I may pour over it, molten lead.”
Pickthal
Give me pieces of iron - till, when he had levelled up (the gap) between the cliffs, he said: Blow! - till, when he had made it a fire, he said: Bring me molten copper to pour thereon.
Shakir
Bring me blocks of iron; until when he had filled up the space between the two mountain sides, he said: Blow, until when he had made it (as) fire, he said: Bring me molten brass which I may pour over it.
Sher Ali
`Bring me blocks of iron.’ They did so till, when he had filled up the space between the two mountains sides, he said, `Now blow with your bellows.’ They blew till, when he had made it red as fire, he said, `Bring me molten copper that I may pour it thereon.’
“Progressive Muslims”
“Bring me iron ore.” Until he levelled between the two walls, he said: “Blow,” until he made it a furnace, he said: “Bring me tar so I can pour over it.”

Metalurgi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana membuat suatu logam dari campuran logam dengan unsur lain. Qur’an dalam bahasa yang sederhana menceritakan bagaimana baja dibuat, dengan memberikan cerita tentang perjalanan Zul Qarnain ke suatu tempat di antara dua bukit (Surat Al Kahfi S 18:92-97). Di antara kedua bukit tersebut Zul Qarnain bertemu dengan orang-orang yang hampir-hampir dia tidak memahaminya. Orang-orang tersebut mengadu padanya tentang Ya’juj dan Ma’juj dan bagaimana mereka membuat kerusakan dan korup. Orang-orang tersebut meminta Zul Qarnain sekiranya dia dapat membuat pembatas antara mereka dan Ya’juj dan Ma’juj. Maka diapun membuatkan pembatas tersebut dengan meminta bantuan orang-orang tersebut, dan apa yang dia kerjakan seperti yang dijelaskan pada ayat tersebut (QS 18:96).

Akan tetapi, kalau kita bandingkan beberapa terjemahan yang ada, secara umum dapat kita kelompokkan menjadi 4 kelompok khususnya dalam menerjemahkan kata “Qithraan” yang memiliki perbedaan terjemahan yang sangat signifikan. Keempat jenis terjemahan tersebut adalah (a) molten copper (tembaga yang meleleh/mendidih), (b) molten lead (timah yang meleleh), (c) molten brass (kuningan yang meleleh), dan (d) tar (ter/tir). Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Jalalen, Tafsir Thabari and Tafsir Qurtubi, kata “qithr” ditafsirkan sebagai “tembaga”. Kata “yang meleleh (molten)” merupakan tafsiran tambahan baik yang ada pada beberapa versi terjemahan di atas dan ketiga tafsir tersebut. Jika kita lihat Kamus Inggris-Indonesia-Arab susunan Attabik Ali, diperoleh arti dari qithr adalah tar (Inggris) dan ter/tir (Indonesia).

Untuk menetapkan tafsiran atau terjemahan mana yang paling tepat, hal ini dapat ditinjau dari perspektif sains (ilmu pengetahuan). Berdasarkan ilmu metalurgi, baja dibuat dari dua unsur yaitu besi dan karbon. Selanjutnya jika kita amati, ter/tir (yang berwarna hitam yang merupakan campuran aspal dan minyak yang diperoleh dari minyak mentah) jelas banyak mengandung unsur karbon. Jadi dalam cerita Zulkarnain di atas jelas apa yang seharusnya dituangkan kedalam besi yang telah memerah panas seperti api adalah tir/ter, karena dengan menuangkan ter/tir tersebut terjadilah percampuran antara besi dan karbon sehingga terbentuklah baja, yang diceritakan sulit dilobangi (QS 18:97). Selain itu kalau kata “qithr” diterjemahkan atau ditafsirkan sebagai ‘tembaga’, ‘timah’, atau ‘kuningan’, maka diperlukan sebuah penafsiran lagi (tafsiran tambahan) yaitu ‘yang meleleh’. Kalau diterjemahkan atau ditafsirkan sebagai ‘ter/tir’ tidak perlu ada penafisran tambahan karena tir/ter memang bentuknya sudah cair sehingga tinggal disiramkan saja ke atas besi yang sudah panas membara seperti api. Dengan demikian, QS 18:96 lebih tepat diterjemahkan sebagai berikut: “Berilah aku potongan-potongan besi. Sekali gap antara dua bukit (puncak) itu terisi, dia (Zul Qarnain) berkata:  Tiuplah. Sekali besi tersebut sudah menjadi merah seperti api, diapun berkata: Berilah aku ter (tir) untuk kutuangkan ke atas besi yang panas itu”.

Jika kata “qithr” seharusnya diterjemahkan sebagai “tar/ter/tir” yang merupakan minyak mentah bercampur aspal, maka terjemahan pada ayat lain yaitu “wa asalnaa lahuu ‘ainal qithr وَأَسَلْنَا لَهُ عَيْنَ الْقِطْرِ  (QS.34:12) ” adalah “dan kami alirkan padanya (Nabi Sulaiman) sumber minyak / ter (spring of oil)”. Pada ayat ini juga secara jelas Allah menggunakan kata “alirkan” yang memang cocok untuk benda cair. Jadi boleh jadi, sumber minyak pertama ada sejak jama Nabi Sulaiman.

(2) Surat Al Hadid Ayat 25 (QS 57:25) 

Beberapa versi terjemahan ayat tersebut adalah:

Departemen Agama RI
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Prof Mahmud Yunus
Sesungguhnya telah Kami utus beberapa rasul Kami dengan (membawa) keterangan, dan Kami turunkan beserta mereka kitab dan neraca (keadilan). Dan Kami turunkan (adakan) besi, untuk (mendapat) kekuatan yang sangat dan beberapa manfaat bagi manusia, dan supaya Allah mengetahui, siapa yang menolongNya (agamaNya) dan rasul-rasulNya, (sedang Dia) gaib (dari mereka). Sungguh Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.
Rashad Khalifa
We sent our messengers supported by clear proofs, and we sent down to them the scripture and the law, that the people may uphold justice. And we sent down the iron, wherein there is strength, and many benefits for the people. All this in order for GOD to distinguish those who would support Him and His messengers, on faith. GOD is Powerful, Almighty.
Yusuf Ali
We sent aforetime our apostles with Clear Signs and sent down with them the Book and the Balance (of Right and Wrong), that men may stand forth in justice; and We sent down Iron, in which is (material for) mighty war, as well as many benefits for mankind, that God may test who it is that will help, Unseen, Him and His apostles: For God is Full of Strength, Exalted in Might (and able to enforce His Will).
Pickthal
We verily sent Our messengers with clear proofs, and revealed with them the Scripture and the Balance, that mankind may observe right measure; and He revealed iron, wherein is mighty power and (many) uses for mankind, and that Allah may know him who helpeth Him and His messengers, though unseen. Lo! Allah is Strong, Almighty.
Shakir
Certainly We sent Our apostles with clear arguments, and sent down with them the Book and the balance that men may conduct themselves with equity; and We have made the iron, wherein is great violence and advantages to men, and that Allah may know who helps Him and His apostles in the secret; surely Allah is Strong, Mighty.
Sher Ali
Verily, WE sent Our Messengers with manifest Signs and sent down with them the Book and the Balance that people may act with justice; and WE sent down iron, wherein is material for violent warfare and diverse uses for mankind, and that Allah may know those who help HIM and HIS Messengers without having seen Him. Surely, Allah is Powerful, Mighty.
“Progressive Muslims”
We have sent Our messengers with proofs, and We sent down with them the Scripture and the balance, that the people may uphold justice. And We sent down the iron, wherein there is great strength, and many benefits for the people. All this in order for God to distinguish those who would support Him and His messengers, on faith. God is Powerful, Noble.

  

Tinjauan tafsir pada ayat ini ditekankan pada pembahasan kalimat “wa anzalna al- hadiida”. Perbandingan ketujuh macam terjemahkan menunjukkan dua perbedaan kelompok terjemahan pada kalimat tersebut yaitu “menciptakan/menjadikan” dan “menurunkan”.  Dalam penjelasannya, Tafsir Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai “menjadikan/menciptakan” sementara Tafsir Jalalen menafsirkannya sebagai “akhrajnaahu min al-ma’aadin” atau “mengeluarkannya (besi) dari pertambangan”. Sementara itu, Prof Mahmud Yunus dalam tafsirannya menjelaskan bahwa “bukanlah arti ayat ini bahwa Allah menurunkan besi dari langit, melainkan mengadakannya dalam bumi dan menganugerahkan akal pikiran kepada manusia, untuk mengeluarkannya sehingga dipergunakannya untuk kekuatan dalam medan peperangan”. Jadi menurut Prof Mahmud Yunus, seolah-olah Allah telah salah menggunakan kata “anzalnaa” pada besi. Meskipun mungkin tidak ada pengaruh yang signifikan dari perbedaan terjemahan terhadap makna atau isi ayat secara keseluruhan, tetapi tentunya ada hal yang sangat menarik untuk diamati mengingat judul suratnya adalah Al-Hadid yang tentunya ada sesuatu yang spesial tentang Al-Hadid (besi). 

Yang perlu diteliti, mengapa Allah sengaja menggunakan kata “wa-anzalnaa (dan Kami turunkan)” bukan “wa-ja’alnaa (dan Kami jadikan/ciptakan)” atau wa-akhrajnaa (dan Kami keluarkan)? Penggunaan kata “anzalnaa” untuk besi sepadan dengan kata “anzalnaa” yang digunakan untuk air yang diturunkan dari langit dan juga kata “anzalnaa” untuk Qur’an yang diturunkan kepada umat manusia melalui Muhammad. Untuk menjawab hal ini, tentunya tidak mudah jika kita memiliki keterbatasan ilmu pengetahuan sehingga kita sering tidak mampu memahaminya karena jelas ilmu Allah itu sangatlah luas.

Barangkali perspektif ilmu pengetahuan modernlah yang akhirnya bisa membuka ‘misteri’ atau mengungkap kebenaran akan Firman Allah tersebut. Seorang ilmuan di Badan Pusat Anatariksa Amerika Serikat (NASA) pernah ditanya tentang unsur besi dan bagaimana besi itu terbentuk. Dia menjelaskan secara panjang lebar bagaimana semua unsur atau elemen yang ada di bumi ini terbentuk. Dia menyatakan bahwa para ilmuan hanya baru-baru ini menemukan bukti-bukti yang relevan tentang proses pembentukan tersebut. Dia mengatakan bahwa sistim energi matahari awalnya tidak cukup untuk memproduksi satu atom unsur besi. Dalam perhitungan, untuk membentuk satu atom besi (Fe) diperlukan sekitar empat kali sebanyak sistim energi matahari seluruhnya. Dengan kata lain, seluruh energi bumi atau bulan atau planet Mars atau planet yang lain tidak cukup untuk membentuk satu atom besi baru, bahkan seluruh energi matahari tidak cukup untuk itu. Maka dari itu ilmuan NASA tersebut berkesimpulan dan percaya bahwa besi berasal dari luar angkasa yang diturunkan ke bumi dan bukan dibentuk di bumi seperti unsur yang lain. Jadi tepatlah Allah katakan “wa-anzalna al-hadiida ” yang artinya “dan kami turunkan besi”. Jadi sebenarnya Qur’an telah menggunakan kata-kata yang tepat dan mudah dipahami, tetapi karena keterbatasan akal pikiran, ahli tafsir sampai berpikir bahwa tidak tepat kalau besi itu diturunkan. Allaahu Akbar.

(3) Surat Ar Rahman ayat 19-20  

Beberapa versi terjemahan dari kedua ayat tersebut adalah sebagai berikut: 

Departemen Agama RI

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian keduanya bertemu. Di antara keduanya ada pembatas yang tidak bisa dilampaui masing-masing
Prof. Mahmud Yunus
Dia kirimkan (adakan) dua macam laut (asin dan tawar) yang bertemu keduanya. Diantara keduanya ada dinding (sehingga) tiada bercampur keduanya.
Rashad Khalifa
He separates the two seas where they meet. A barrier is placed between them, to prevent them from transgressing.
Yusuf Ali
He has let free the two bodies of flowing water, meeting together: Between them is a Barrier which they do not transgress
Pickthal
He hath loosed the two seas. They meet. There is a barrier between them. They encroach not (one upon the other).
Shakir
He has made the two seas to flow freely (so that) they meet together: Between them is a barrier which they cannot pass.
Sher Ali
HE has made the two bodies of water flow; they will one day meet. Between them there is at present a barrier; they cannot encroach one upon the other.
“Progressive Muslims”
He separates the two seas where they meet. A barrier is placed between them, which they do not cross.

Secara harfiah, tidak ada ada perbedaan yang signifikan di antara beberapa versi terjemahan tersebut. Tetapi, dalam menafsirkan ayat tersebut terdapat beberapa perbedaan. Inti pembahasan kedua ayat tersebut terletak pada dua kata kunci yaitu “bahrain” (dua lautan atau dua badan air) dan “barzahun” (pembatas/membran). Jika kita tengok beberapa tafsir Qur’an seperti Tafsir Jalalen, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Qurtubi, dan Tafsir Thabari, kata “bahrain” ditafsirkan sebagai “bahru al-milhu wa al-‘adzbu” atau lautan yang asin airnya dan lautan yang tawar airnya. Selanjutnya, pada Tafsir Qurtubi kata tersebut juga ditafsirkan sebagai “bahru al-sama’ wa bahru al-ardh” atau lautan langit dan lautan bumi. Di antara ahli tafsir juga ada yang menafsirkan bahwa ada dua laut yang kedua-duanya tercerai karena dibatasi oleh tanah genting, tetapi tanah genting itu tidak dikehendaki, maka pada akhirnya tanah genting itu dibuang (digali untuk keperluan lalu lintas seperti terusan sues dan panama), maka bertemulah dua lautan itu (lihat Quran dan Terjemahannya Dep Agama RI). Dari sekian tafsir yang ada, tidak ada yang menjelaskan bahwa dalam konteks kedua ayat tersebut kedua lautan tersebut adalah lautan yang asin airnya. 

Bagaimana tinjauan ayat Qur’an tersebut berdasarkan perspektif ilmu pengetahuan (sains modern)? Beberapa tahun yang lampau, seorang ahli oceanografi secara tidak sengaja menemukan fenomena alam yang sungguh menakjubkan ketika dia sedang menyelam di tengah-tengah lautan. Fenomena yang dia alami adalah dia berada dalam air yang tawar dan segar di tengah lautan. Pengalaman tersebut dia simpan sekian lama dan menjadi teka-teki yang lama tidak terjawab, sampai akhirnya dia bertemu dengan seorang Prof. Maurice Buccaile (yang sudah masuk Islam) dan menceritakan pengalamannya. Sang professor teringat akan surat Ar Rahman ayat 19-20 dan dibacakannya (QS 27:61 juga menceritakan hal yang sama). Oceanologis tersebut begitu terkesima melebihi kekaguman yang ia alami sewaktu menyelam menemukan air tawar di tengah lautan, dan akhirnya dia masuk Islam. Kebenaran fenomena sains yang disebutkan dalam Al Qur’an tersebut juga dikonfirmasi oleh Dr. William Hay, seorang ahli kelautan dan Professor Ilmu Geologi pada Universitas Colorado, Amerika Serikat.

Ilmu sains modern telah menemukan beberapa tempat dimana dua lautan bertemu ada pembatas (membran) antara kedua lautan tersebut. Pembatas ini membagi dua lautan sedemikian sehingga setiap lautan memiliki temperatur, salinitas dan kepadatan masing-masing.  Pembatas tersebut adalah air tawar dan segar yang membatasi dua lautan yang kedua-duanya asin airnya. Ketika air dari salah satu lautan mau menuju ke lautan yang lain melalui pembatas tersebut, sifat dari air laut (asin) tersebut hilang. Berdasarkan temuan para ahli oceanografi, fenomena tersebut dapat dijumpai di beberapa tempat misalnya di Gibraltar yaitu pembatas antara laut Mediterania dan Lautan Atlantik. Dasar yang digunakan oleh para ahli tafsir dalam menafsirkan kata bahrain (dua lautan)” pada QS 55:19 sebagai lautan tawar dan lautan asin merujuk pada ayat Qur’an lain (QS 25:53) yang menyebutkan bahwa dua lautan (badan air yang mengalir) bertemu, yang satu segar lagi tawar dan yang lain asin. Padahal ayat tersebut menjelaskan fenomena alam lain yang kondisinya sangat berbeda dengan apa yang dijelaskan pada QS 55:19-20. Karena pada QS 25:53 disebutkan bahwa Allah membuat pembatas di antara keduanya, dan partisi yang yang menghalangi untuk bisa dilalui keduanya. Jadi jelas bahwa pada ayat ini disebutkan adanya partisi dan pembatas/membran. Sains modern telah menemukan bahwa di Estuaria, dimana air segar dan tawar bertemu dengan air asin, situasinya berbeda dengan yang ditemukan di tempat-tempat dimana dua lautan asin bertemu. Fenomena ini terjadi di beberapa tempat seperti Mesir dimana Sungai Nil mengalir ke Laut Mediteran. Di Australia Selatan, menurut salah seorang warga Indonesia yang punya hobby mancing juga menemui fenomena tersebut yaitu di Goolwa yang ditunjukkan adanya perbedaan jenis ikan (ikan air asin dan ikan air tawar) pada suatu tempat pemancingan, dimana pemancing dapat memilih mau mancing ikan tawar atau ikan asin. Jadi tidak ada hubungan sama sekali mengenai makna antara QS 55:19-20 dan QS 25:53.   

(4) Surat Yusuf ayat 4 (QS 12:4) 

Terjemahan ayat tersebut dalam beberapa versi seperti terlihat pada tabel berikut:

Departemen Agama RI

Ingatlah ketika Yusuf berkata pada anaknya: ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud padaku”. 
Rashad Khalifa
Recall that Joseph said to his father, “O my father, I saw eleven planets, and the sun, and the moon; I saw them prostrating before me.”
Yusuf Ali
Behold! Joseph said to his father: “O my father! I did see eleven stars and the sun and the moon: I saw them prostrate themselves to me!”
Pickthal
When Joseph said unto his father: O my father! Lo! I saw in a dream eleven planets and the sun and the moon, I saw them prostrating themselves unto me.
Shakir
When Yusuf said to his father: O my father! surely I saw eleven stars and the sun and the moon — I saw them making obeisance to me.
Sher Ali
Remember the time when Joseph said to his father, O my father, I saw in a dream eleven stars and the sun and the moon - I saw them making obeisance to me.’
“Progressive Muslims”
When Joseph said to his father: “My father, I have seen eleven planets and the sun and the moon, I saw them submitting to me.”

Dengan membandingkan tujuh terjemahan Qur’an yang ada, ada dua macam terjemahan kata ‘kaukab’ pada ayat tersebut yaitu “bintang (stars)” dan “planet”. Misalnya, Rashad Khalifa, Pickthal and “Progressive Muslims” menerjemahkan kata “kaukab” dengan “planet”, sementara Depag RI, Yusuf Ali, Shakir, dan Sher Ali menerjemahkannya sebagai “bintang”. Untuk mengetahui terjemahan atau tafsiran mana yang paling mendekati kebenaran, pendekatan sains dapat digunakan. Dalam perspektif ilmu pengetahuan ada perbedaan yang jelas antara pengertian planet dan bintang. Menurut definisi, planet adalah benda langit (angkasa) yang mengelilingi matahari dan tidak menghasilkan atau memiliki cahaya sendiri. Bintang adalah benda langit yang memiliki dan menghasilkan cahaya sendiri. Berdasarkan kedua definisi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa matahari digolongkan sebagai bintang karena matahari adalah benda langit yang menghasilkan cahaya. Dengan demikian, kata “kaukab” kurang tepat jika diterjemahkan sebagai bintang, karena “kaukab” cenderung merujuk benda benda langit yang lebih spesifik yaitu planet (bukan bintang). Hal ini juga didukung oleh Maurice Buccaile (Ilmuan Perancis yang telah masuk Islam) dan Kamus Inggris-Indonesia-Arab karya At-Tabik Ali yang secara tegas menerjemahkan “kaukab” sebagai planet.

Kebenaran kata “kaukab” yang diterjemahkan sebagai planet juga didukung oleh fakta bahwa pada buku-buku teks ilmu pengetahuan alam disebutkan bahwa jumlah planet yang telah ditemukan di tata surya kita adalah 9 yaitu Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Neptunus, Saturnus, Uranus, dan Pluto. Baru-baru ini (tahun 2004) ditemukan sebuah benda langit mirip planet yang mengelilingi matahari yang letaknya lebih jauh dari Planet Pluto (planet terjauh dari bumi). Jika benda langit ini dipastikan sebagai planet, maka telah ada 10 planet yang ditemukan. Dengan demikian masih ada satu planet lagi yang belum ditemukan karena menurut Qur’an ada 11 planet, dan ini kesempatan bagi ilmuan muslim untuk menemukan planet kesebelas.

(5) Surat Ar Rahman ayat 37 (QS 55:37)

 فَإِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِ 

Terjemahan beberapa versi:

Departemen Agama RI

Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak
Prof Mahmud Yunus
Maka apabila langit terbelah lalu ia menjadi bunga mawar seperti minyak
Khalifa
When the sky disintegrates, and turns rose colored like paint.
Yusuf Ali
When the sky is rent asunder, and it becomes red like ointment:
Pickthal
And when the heaven splitteth asunder and becometh rosy like red hide -
Shakir
And when the heaven is rent asunder, and then becomes red like red hide.
Sher Ali
And when the heaven is rent asunder and become red like red hide.
“Progressive Muslims”
When the universe is torn, and turns like a rose coloured paint.

Sebagian besar ahli tafsir menggambarkan ayat tersebut sebagai peristiwa yang sangat menakutkan yang akan terjadi pada hari kiamat. Bagaimana dengan gambar berikut yang berhasil diambil oleh Teleskop Ruang Angkasa Hubble milik NASA, yang bias dinikmati pada tahun 1999/2000.Gambar tersebut secara jelas berkaitan dengan pernyataan dalam Al Quran Surat Ar rahman ayat 37. Mereka menyebut gambar tersebut sebagai “Cat’s eye nebula”, mungkin yang lebih tepat adalah “Red rose nebula” seperti yang diceritakan dalam Al Qur’an. 

 Cat’s eye nebula (red rose nebula)

Implikasi dari Kajian 

Beberapa ayat di atas hanyalah sebagian dari ayat-ayat yang terkait dengan dengan sains yang bisa dibahas pada tulisan yang singkat ini. Hasil tinjauan ini tentunya memberikan implikasi yang luas khususnya dalam memahami tafsir-tafsir Qur’an yang ada. Paling tidak ada dua poin penting yang bisa dipetik. Pertama, meskipun secara isi, tafsir Qur’an mencoba untuk menjelaskan dan membantu orang awam dalam memahami kandungan Al Qur’an, penafsiran yang kurang tepat yang disebabkan keterbatasan akal manusia dapat mengakibatkan makna yang sebenarnya (genuine meaning) dari ayat Qur’an menjadi kabur, sehingga pesan yang sebenarnya tidak sampai kepada manusia. Dalam beberapa contoh ayat di atas, penafsiran yang tidak tepat telah berakibat pada hilangnya nilai sains dari ayat-ayat tersebut. Kedua, mengingat adanya bukti-bukti berdasarkan ilmu pengetahuan modern yang sangat mendukung kebenaran ayat-ayat Qur’an khususnya yang berkaitan dengan sains (tidak tertutup kemungkinan ayat-ayat lain yang tidak ada kaitannya dengan sains), maka kiranya perlu dilakukan sebuah review khususnya terhadap terjemahan-terjemahan Qur’an yang banyak digunakan sebagai acuan orang awam dalam mempelajari Qur’an, guna meluruskan pemahaman. Penggunaan kata-kata dalam Al Quran seprti “kami turunkan besi”, “kami alirkan padanya sumber minyak/tar” dan lain-lain sebenarnya telah sesuai dengan konsep bahasa yang telah dijelaskan dalam Al Qur’an pada salah satu ayat “Fa innamaa yassarnaahu bilisaanika (QS 44:58)” yang artinya “sesungguhnya Kami mudahkan Al Quran itu dengan bahasamu”. Sebagai penutup, semua kebenaran datangnya dari Allah, sementara kesalahan-kesalahan dalam tinjauan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis yang mungkin tidak bisa menjangkau ilmu Allah yang begitu luas. Wallaahu a’lam bish-shawab.

Posted by Muhammad Asrori,S.Kom at 03:06:35 | Permalink | No Comments »