Tuesday, April 29, 2008

Ilmuwan Swedia: Teori Ayamnya Darwin Keliru

Dalam jurnal PLoS Genetics imuwan Swedia menyangkal bahwa ayam hutan merah adalah nenek moyang tunggal ayam peliharaan. Darwin lagi-lagi keliru! Hidayatullah. com–Dalam bukunya, “The Origin of Species (1859)” (Asal-Usul Spesies), bab 6 tentang Kesulitan-Kesulitan Teori, Charles Darwin mengisahkan asal usul ikan paus. Menurutnya tidaklah sulit bagi “seleksi alam” untuk mengubah beruang menjadi makhluk dengan bentuk tubuh yang semakin sesuai untuk hidup di laut dengan mulut yang semakin besar, hingga akhirnya menjadi ikan paus. Pernyataan ini kedengaran aneh, tapi tidak mengherankan mengingat keterbelakangan ilmu pengetahuan di masa Darwin. Dalam karyanya yang lain “The variation of animals and plants under domestication (1868)” Charles Darwin juga berpendapat bahwa ayam peliharaan berasal-usul dari unggas merah hutan. Terbuktikah pernyataan Darwin? Sudah bisa ditebak. Ilmu pengetahuan di masa Darwin sangatlah kuno, sehingga teorinya didasarkan pada banyak ketidaktahuan. Di jamannya, kerumitan sel di tingkat molekul belumlah diketahui. Charles Darwin sama sekali tidak memahami apa itu DNA, RNA, dan metabolisme sel. Lebih dari seabad kemudian, kecanggihan ilmu dan teknologi semakin memungkinkan orang menguak rahasia alam, termasuk seluk-beluk kehidupan di tingkat sel. Tidak heran dan bisa dimaklumi jika para ilmuwan di masa kini ada yang semakin tidak menemukan kebenaran sejumlah teorinya. “Darwin was wrong about the wild origin of the chicken” (Darwin salah tentang asal-usul liar ayam), demikian judul berita resmi keluaran Uppsala University, Swedia, 29 Februari 2008. Berita ini sangatlah heboh dan mengejutkan dunia ilmu pengetahuan sampai-sampai berbagai media massa ilmiah dan umum di penjuru dunia ramai-ramai meliput berita yang mengagetkan ini. Hasil penelitian ini terbit di jurnal ilmiah bergengsi, PLoS Genetics edisi 4(2) tahun 2008 dengan judul “Identification of the Yellow Skin Gene Reveals a Hybrid Origin of the Domestic Chicken” (Identifikasi Gen Kulit Kuning Mengungkap Asal-Usul Hibrida Ayam Peliharaan). “Penelitian ini menyangkal anggapan bahwa ayam hutan merah adalah nenek moyang tunggal ayam peliharaan dan memberikan bukti nyata bahwa spesies-spesies lain bersumbangsih pada genom ayam peliharaan”, papar jurnal tersebut. “Ironisnya adalah Darwin berpikiran bahwa lebih dari satu spesies liar telah bersumbangsih terhadap perkembangan anjing, tapi ayam berasal dari hanya satu spesies liar, unggas hutan merah. Sekarang terbukti justru sebaliknya,” kata Greger Larson, peneliti di Uppsala University, Swedia, dan di Durham University, Inggris. Berita ini diliput pula oleh media pemberitaan Inggris, Telegraph.co. uk, 29 Februari 2008, di bawah judul “Darwin was wrong about (chicken) evolution” (Darwin keliru mengenai evolusi (ayam)). Artikel itu memaparkan, selain teori tentang ayamnya salah, teori sang Bapak Evolusi Charles Darwin mengenai asal-usul anjingnya juga meleset. [wwn/www.hidayatull ah.com]
Posted by Muhammad Asrori,S.Kom at 07:45:11 | Permalink | No Comments »

Teori Bulu Meraknya Darwin Tercabut

TAHUN 2008 boleh dibilang tahun kemalangan teori Darwin. Setelah dianggap sudah tak lagi memadai, banyak pakar mencabut teori-teorinya. Setelah teori seleksi alamnya dianggap tidak lagi memadai sebagai mekanisme utama evolusi, teori asal usul anjing dan ayamnya dinyatakan meleset, teori evolusi halus dan perlahannya terbukti tidak tepat, fosil bentuk mata rantai impiannya tidak kunjung ditemukan, kini giliran teori bulu ekor meraknya yang “mulai tercabut”. Inilah kesimpulan penelitian terbaru sebagaimana diterbitkan jurnal ilmiah kelas dunia, Animal Behaviour, April 2008. “Ini mementahkan keyakinan yang dipegang lama bahwa bulu merak jantan berevolusi sebagai tanggapan atas pemilihan pasangan kawin oleh merak betina,” tulis Discovery News, 27 Maret 2008. Temuan ini juga mengisyaratkan bahwa bagian-bagian tubuh yang berpola rinci dan indah lain pada unggas seperti ayam, kalkun, burung belibis, burung puyuh dan burung pegar, termasuk juga merak, tidak mesti terkait dengan kemampuan beradaptasi dan keberhasilan perkawinan. “Sudah menjadi sebuah kebenaran nyata sejak masa Darwin bahwa: Burung merak betina lebih menyukai merak jantan berekor menawanùkipas berbulu indah yang dibentangkannya untuk memukau si betina. Namun penelitian terbaru selama 7 tahun mempertanyakan anggapan yang telah lama diyakini ini, yang melaporkan bahwa betina dalam populasi liar merak India (Pavo cristatus) tidak memperlihatkan kecenderungan tersebut. Karya ilmiah yang memicu perdebatan itu membantah kajian-kajian sebelumnya yang disanjung-sanjung, yang menyingkap kaitan dan yang menjadi bagian dari kaidah biologi evolusi”. Demikian rangkum media pro-evolusi ScienceNOW Daily News, 31 Maret 2008. Tak ketinggalan, majalah ilmiah pendukung evolusi kondang asal Inggris, New Scientist, 27 Maret 2008, menurunkan berita yang menyentak para Darwinis itu dengan judul “Have peacock tails lost their sexual allure?” (Sudahkah ekor merak jantan kehilangan daya pikat seksualnya?) . “Penelitian yang memunculkan perdebatan itu menemukan tidak adanya bukti yang mendukung pandangan lama û yang nyaris dikeramatkan dalam ajaran evolusi û bahwa merak betina memilih pasangan mereka berdasarkan mutu ekor merak jantan,” ulas New Scientist. Berita itu menurunkan kajian ilmiah yang untuk kesekian kali mementahkan teori-teori Darwin yang dijadikan tulang punggung utama biologi evolusi, serta diyakini layaknya “fakta, bahkan agama suci” oleh para pengikut dogmatisnya. Pendek kata, setelah mengamati perilaku perkawinan pasangan burung merak sebanyak ratusan kali, peneliti asal Jepang Mariko Takahashi beserta timnya gagal membuktikan kebenaran teorinya Darwin tentang seleksi seksual.
Posted by Muhammad Asrori,S.Kom at 07:41:52 | Permalink | No Comments »